Sabtu, 27 Agustus 2016

Susu dan Sembelit Pada Anak




Terkadang ada kasus anak di atas 1th susah untuk buang air besar. Ketika ke dokter maka akan ditanya : berapa banyak anaknya minum susu dalam sehari?
Tidak mengejutkan sebenarnya, jawabannya adalah: rata-rata lebih dari 1 liter dalam sehari. Anak-anak ini tidak jarang memiliki status gizi yang baik. Bukankah asumsi sebagian orangtua adalah berikan susu yang banyak agar kebutuhan nutrisi anak tercapai? Bukankah iklan-iklan di TV menunjukkan anak-anak yang rajin minum susu menjadi sehat dan cerdas? Tapi pernahkah mereka menjumpai fakta yang kami hadapi: anak-anak yang selalu kesakitan tiap buang air besar. Anak-anak ini kadang bahkan cukup konsumsi sayur dan buahnya. Minum air putih pun banyak. Tapi buang air besar hanya 2 - 3 kali seminggu dengan perjuangan keras. Mengedan dan menangis. Mereka pun menjadi takut pup dan makin menahan pup karena tidak ingin kesakitan. Alhasil tinja menjadi makin keras. Lingkaran setan. Mereka mengalami sembelit alias konstipasi fungsional. Lalu apa hubungannya dengan konsumsi susu? Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari jawabannya. Ada yang mengaitkan konstipasi dengan intoleransi laktosa. Beberapa menghubungkannya dengan alergi terhadap protein susu sapi, sehingga ada yang menyarankan susu kedelai. Tapi susu kedelai pun masih bisa membuat alergi. Di balik semua ini: apakah susu merupakan sumber nutrisi wajib bagi anak? Bukankah susu justru dibatasi konsumsinya pada anak di atas 1 tahun?

Susu sebagai salah satu produk nutrisi yang dulu dianggap sebagai penyempurna makanan sehat (ingat 4 sehat 5 sempurna?) kini mengalami pergeseran paradigma. Mayoritas susu yang dikonsumsi di dunia berasal dari sapi, padahal tidak semua negara memiliki kantong-kantong peternakan sapi yang digunakan sebagai hewan perah. Konsep nutrisi seimbang yang kini dianut mayoritas negara maju adalah piramida makanan (food pyramid) yang menempatkan susu di bagian yang mendapatkan porsi kecil saja. Amerika Serikat mempunyai konsep food plate yang menempatkan susu di luar "plate"-nya. Padahal AS diketahui sebagai negara yang tampak kental kultur minum susunya. Apa artinya? Susu sebagai pelengkap. Bahkan yang ada adalah batasan maksimal konsumsi susu, yaitu 500 ml pada anak. Bolehkah anak berusia di atas 1 tahun tidak minum susu sama sekali? Mengapa tidak. (O iya, susu yang saya bicarakan di sini bukan ASI ya) Kembali kepada tujuan utama: mengapa harus minum susu? Untuk mendapatkan kalsium-nya terutama. Ingat ya, kalsium bisa didapatkan dari berbagai sumber makanan. Susu juga mengandung lemak dan sebagian diperkaya zat besi. Tapi tetap saja bukan sumber utamanya. Dalam bahasan di atas dijelaskan bahwa penyebab sembelit akibat konsumsi susu dihubungkan dengan intoleransi laktosa atau alergi protein susu sapi.
Insert : Gamis Katun Jepang Murah Berkualitas
Pin BB : 27e3c74e
WA :+6282242318804
FB : Gamis Katun Dan Pakaian Anak Ummu Nuriel

Tidak sedikit anak yang dikurangi volume susunya langsung mengalami perbaikan konsistensi tinja menjadi tidak keras. Sembelit alias konstipasi teratasi! Tentunya dibarengi dengan makanan tinggi serat, banyak minum air, dan toilet training sedini mungkin. Bagaimana bila konstipasi tidak langsung teratasi? Kasihan kan lihat anak menderita kesakitan dan menangis saat BAB. Pencahar seperti laktulosa dapat diberikan untuk melunakkan tinja. Buat anak agar tidak trauma saat BAB dengan bantuan obat ini. Sambil mengurangi susu dan menjalankan saran lainnya. Setelah pup lancar, pencahar dihentikan bertahap. Dampak buruk kelebihan susu lainnya adalah membuat anak kenyang dan malas makan. Anak boleh saja tampak gemuk, tapi tidak mau makan sayur dan buah yang tinggi serat, sehingga tinjanya keras. Terlalu banyak susu yang mengandung kalsium juga mengikat zat besi sehingga kurang optimal diserap di usus. Anak mengalami anemia defisiensi besi. Belum lagi masalah gigi yang berkaries. Anak minum susu dengan dot sambil tidur, tidak gosok gigi, dan gula terus mengaliri gigi membentuk media yang kondusif bagi bakteri rongga mulut menghasilkan karies. Orangtua tidak kalah pentingnya menjadi role model bagi anak-anaknya dalam hal gemar makan sayur dan buah. Prinsipnya: minumlah susu dengan bijak.

Sumber : dr.Arifianto Apin SpA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar