Dapat info klo artis religi, yang baru melahirkan anaknya tidak mau imunisasi karena ada babinya
kemudian melakukn tahnik karena untuk kekebalan (imunisasi ala nabawi)
(Benar infonya ya? Soalnya gak ngikuti berita
InsyaAllah yang benar tahnik bukan imunisasi dalam ajaran Islam,
bahkan ulama berselisih pendapat apkah tahnik itu sunnah atau tidak,
yg beralasan tidak sunnah, bahwa tahnik adalah perbuatan khsus Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam, sperti puasa berhari2 tanpa berbuka
# Benarkah tahnik adalah imunisasi dalam Islam?
Sejumlah tulisan menyebar mengenai imunisasi
yang dinisbatkan dengan agama Islam,yaitu
imunisasi alami dengan tahnik, bahkan sampai
mengatakan bahwa tujuan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam atau hikmah dari tahnik adalah
imunisasi alami, dimana bakteri dari mulut yang
mengunyah kurma akan masuk ke perut bayi
sehingga mencetus imunitas alamiah. Atau klaim
sebagai imunisasi yang islami. Pendapat ini
umumnya diusung oleh kelompok antivaksin
untuk menolak vaksinasi.
Dalam tulisan ini, kami akan membawakan
beberapa penjelasan ulama mengenai hikmah
tahnik, dari beberapa penjelasan ulama
disimpulkan bahwa ternyata pernyataan “tahnik
adalah imunisasi dalam islam” tidak tepat.
Berikut pembahasannya
Tahnik dan hadits-hadits mengenai tahnik
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan
pengertian tahnik,
ﻭﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﻣﻀﻎ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻭﻭﺿﻌﻪ ﻓﻲ ﻓﻢ
ﺍﻟﺼﺒﻲ ﻭﺩﻟﻚ ﺣﻨﻜﻪ ﺑﻪ ﻳﺼﻨﻊ ﺫﻟﻚ
ﺑﺎﻟﺼﺒﻲ ﻟﻴﺘﻤﺮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻛﻞ ﻭﻳﻘﻮﻯ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﺃﻥ ﻳﻔﺘﺢ ﻓﺎﻩ
ﺣﺘﻰ ﻳﻨﺰﻝ ﺟﻮﻓﻪ ﻭﺃﻭﻻﻩ ﺍﻟﺘﻤﺮ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ
ﻳﺘﻴﺴﺮ ﺗﻤﺮ ﻓﺮﻃﺐ ﻭﺇﻻ ﻓﺸﻲﺀ ﺣﻠﻮ
ﻭﻋﺴﻞ ﺍﻟﻨﺤﻞ ﺃﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ
“Tahnik ialah Mengunyah sesuatu kemudian
meletakkan/ memasukkannya ke mulut bayi
lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit
(mulut)nya . Dilakukan demikian kepada bayi agar
supaya ia terlatih terhadap makanan dan untuk
menguatkannya. Dan yang patut dilakukan ketika
mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut)
dibuka sehingga (sesuatu yang telah dikunyah)
masuk ke dalam perutnya. Dan yang lebih utama
(ketika) mentahnik ialah dengan kurma kering
(tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma
kering (tamr) maka dengan kurma basah
(ruthab) . Dan kalau tidak ada kurma dengan
sesuatu yang manis dan tentunya madu lebih
utama dari yang lainnya (kecuali kurma)”. [1]
Hadits-hadist mengenai tahnik berikut ini.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari
hadits Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata,
ﻭُﻟِﺪَ ﻟِﻰ ﻏُﻼَﻡٌ ﻓَﺄَﺗَﻴْﺖُ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻓَﺴَﻤَّﺎﻩُ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﻭَﺣَﻨَّﻜَﻪُ
ﺑِﺘَﻤْﺮَﺓٍ
“Pernah dikaruniakan kepadaku seorang anak
laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau
memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya
dengan sebuah kurma. ” [2]
Dari Anas Radhiallahu ‘anhu , dia berkata:
ﻛَﺎﻥَ ﺍﺑْﻦٌ ِﻷَﺑِﻲ ﻃَﻠْﺤَﺔَ ﻳَﺸْﺘَﻜِﻲ، ﻓَﺨَﺮَﺝَ ﺃَﺑُﻮ
ﻃَﻠْﺤَﺔَ ﻓَﻘُﺒِﺾَ ﺍﻟﺼَّﺒِﻲُّ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺟَﻊَ ﺃَﺑُﻮ
ﻃَﻠْﺤَﺔَ ﻗَﺎﻝَ: ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﺍﻟﺼَّﺒِﻲُّ؟ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﺃُﻡُّ
ﺳُﻠَﻴْﻢٍ: ﻫُﻮَ ﺃَﺳْﻜَﻦُ ﻣِﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ. ﻓَﻘَﺮَّﺑَﺖْ ﺇِﻟَﻴْﻪِ
ﺍﻟْﻌَﺸَﺎﺀَ، ﻓَﺘَﻌَﺸَّﻰ ﺛُﻢَّ ﺃَﺻَﺎﺏَ ﻣِﻨْﻬَﺎ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ
ﻓَﺮَﻍَ ﻗَﺎﻟَﺖْ: ﻭَﺍﺭِ ﺍﻟﺼَّﺒِﻲَّ. ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﺃَﺑُﻮ
ﻃَﻠْﺤَﺔَ ﺃَﺗَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﺄَﺧْﺒَﺮَﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ:
ﺃَﻋْﺮَﺳْﺘُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻠَﺔَ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﻧَﻌَﻢْ، ﻗَﺎﻝَ: ﺍَﻟﻠّﻬُﻢَّ
ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻟَﻬُﻤَﺎ. ﻓَﻮَﻟَﺪَﺕْ ﻏُﻼَﻣًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻲ ﺃَﺑُﻮ
ﻃَﻠْﺤَﺔَ: ﺍِﺣْﻤَﻠْﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺄْﺗِﻲَ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻓَﻘَﺎﻝَ:
ﺃَﻣَﻌَﻪُ ﺷَﻲْﺀٌ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ: ﻧَﻌَﻢْ ﺗَﻤَﺮَﺍﺕٌ. ﻓَﺄَﺧَﺬَﻫَﺎ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻓَﻤَﻀَﻐَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺃَﺧَﺬَ ﻣِﻦْ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﺠَﻌَﻠَﻬَﺎ
ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﺒِﻲِّ ﻭَﺣَﻨَّﻜَﻪُ ﺑِﻪِ ﻭَﺳَﻤَّﺎﻩُ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ.
“Seorang anak Abu Thalhah merasa sakit. Lalu
Abu Thalhah keluar rumah sehingga anaknya itu
pun meninggal dunia. Setelah pulang, Abu
Thalhah berkata, ‘Apa yang dilakukan oleh anak
itu?’ Ummu Sulaim menjawab, ‘Dia lebih tenang
dari sebelumnya.’ Kemudian Ummu Sulaim
menghidangkan makan malam kepadanya.
Selanjutnya Abu Thalhah mencampurinya.
Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata,
‘Tutupilah anak ini.’ Dan pada pagi harinya, Abu
Thalhah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam seraya memberitahu beliau, maka
beliau bertanya, “Apakah kalian bercampur tadi
malam?’ ‘
Ya,’ jawabnya. Beliau pun bersabda, ‘Ya Allah,
berikanlah keberkahan kepada keduanya.’
Maka Ummu Sulaim pun melahirkan seorang
anak laki-laki. Lalu Abu Thalhah berkata
kepadaku (Anas bin Malik), ‘Bawalah anak ini
sehingga engkau mendatangi Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam.’
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,
‘Apakah bersamanya ada sesuatu (ketika di
bawa kesini?’ Mereka menjawab, ‘Ya. Terdapat
beberapa buah kurma.’
Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengambil buah kurma itu lantas
mengunyahnya , lalu mengambilnya kembali
dari mulut beliau dan meletakkannya di mulut
anak tersebut kemudian mentahniknya dan
memberinya nama ‘Abdullah.” [3]
ﻋﻦ ﻋﺎ ﺀ ﺷﺔ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻗﺎ ﻟﺖ :
ﺃﺗﻰ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺑﺼﺒﻰ
ﻳﺤﻨﻜﻪ ﻓﺒﺎ ﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺄ ﺗﺒﻌﻪ ﺍﻟﻤﺎﺀ
Dari Aisyah, ia berkata, “Didatangkan kepada
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang bayi
laki-laki beliau mentahniknya, lalu bayi itu
mengecinginya, kemudian beliau
memercikkannya dengan air” [4]
Dan dalam lafadz Muslim sebagai berikut.
ﻋﻦ ﻋﺎ ﺀ ﺷﺔ ﺯﻭﺝ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭ ﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﺭﺳﻮ ﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ
ﺳﻠﻢ ﻳﺆ ﺗﻰ ﺑﺎ ﻟﺼﺒﻴﺎ ﻥ ﻓﻴﺒﺮﻙ ﻋﻠﻴﻬﻢ
ﻭﻳﺤﻨﻜﻬﻢ ﻓﺄ ﺗﻰ ﺑﺼﺒﻰ ﻓﺒﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﺪ
ﻋﺎ ﺑﻤﺎﺀ ﻓﺄ ﺗﺒﻌﻪ ﺑﻮ ﻟﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻐﺴﻠﻪ
“Artinya : Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam, “ Sesungguhnya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam di datangkan
kepada beliau beberapa bayi kemudian beliau
mendo’akan keberkahan atas mereka dan
mentahnik mereka. Lalu dibawa kepada beliau
seorang bayi laki-laki, lalu bayi itu kencing
dipangkuan beliau, kemudian beliau meminta air
dan memercikkannya ke kencing bayi tersebut
dan beliau tidak mencucinya”
Hikmah tahnik dan penjelasan ulama
Hikmahnya adalah agar yang paling pertama
masuk di perut bayi adalah sesuatu yang manis
dan ketika itu berdoa mengharapkan keberkahan.
nsert : Gamis Katun Jepang Murah Berkualitas
Pin BB : 27e3c74e
WA :+6282242318804
FB : Gamis Katun Dan Pakaian Anak Ummu Nuriel
WA :+6282242318804
FB : Gamis Katun Dan Pakaian Anak Ummu Nuriel
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid
hafidzahullah menjelaskan,
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﺑﺎﻟﺘﻤﺮ، ﻓﻘﺪ
ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻗﺪﻳﻤﺎ ﻳﺮﻭﻥ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻨﺔ
ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺃﻭﻝ ﺷﻲﺀ ﻳﺪﺧﻞ ﺟﻮﻑ ﺍﻟﻄﻔﻞ
ﺷﻲﺀ ﺣﻠﻮ ، ﻭﻟﺬﺍ ﺍﺳﺘﺤﺒﻮﺍ ﺃﻥ ﻳﺤﻨﻚ
ﺑﺤﻠﻮ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﺍﻟﺘﻤﺮ
“Adapun hikmah dari tahnik menggunakan
kurma maka para ulama terdahulu berpendapat
bahwa ini adalah sunnah yang dilakukan oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar yang
paling pertama masuk ke perut bayi adalah
sesuatu yang manis, oleh karena itu dianjurkan
mentahnik dengan sesuatu yang manis jika tidak
mendapatkan kurma.” [5]
Al-Mawardi rahimahullah berkata,
ﻓﻌﻨﺪ ﻣﻦ ﻳﺠﻴﺰ ﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﻓﺎﻷﻓﻀﻞُ ﻋﻨﺪﻩ
ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﺘﻤﺮ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﻓﻴﺤﻨِّﻜﻪ
ﺑﺸﻲﺀٍ ﻳﻜﻮﻥ ﺣُﻠْﻮًﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺫﻫﺐ ﺇﻟﻴﻪ
ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻞ
“Menurut ulama yang membolehkan tahnik
(bukan perbuatan khusus bagi Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam saja), maka yang
paling utama menurut mereka menggunakan
kurma, jika tidak ada maka dengan sesuatu
yang manis sebagaimana pendapat Syafi’iyyah
dan Hanabilah.” [6]
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,
ﻛﻮﻥ ﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﺑﺘﻤﺮ ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻭﻟﻮ
ﺣﻨﻚ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﺣﺼﻞ ﺍﻟﺘﺤﻨﻴﻚ ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺘﻤﺮ
ﺃﻓﻀﻞ
“Tahnik dilakukan dengan kurma dan ini
mustahab, namun andai ada yang mentahnik
dengan selain kurma maka telah terjadi
perbuatan tahnik , akan tetapi tahnik dengan
kurma lebih utama.” [7]
Demikian juga penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani
rahimahullah,beliau berkata
ﻭﺃﻭﻻﻩ ﺍﻟﺘﻤﺮ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﻴﺴﺮ ﺗﻤﺮ ﻓﺮﻃﺐ
ﻭﺇﻻ ﻓﺸﻲﺀ ﺣﻠﻮ ﻭﻋﺴﻞ ﺍﻟﻨﺤﻞ ﺃﻭﻟﻰ ﻣﻦ
ﻏﻴﺮ
Dan yang lebih utama (ketika) mentahnik ialah
dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah
mendapatkan kurma kering (tamr) maka dengan
kurma basah (ruthab) . Dan kalau tidak ada
kurma dengan sesuatu yang manis dan
tentunya madu lebih utama dari yang lainnya
(kecuali kurma)”. [8]
Dan hikmah mengapa harus yang manis telah
terungkap dalam ilmu kedokteran, berikut
penelitian penelitian dokter spesialis yaitu dr.
Muhammad Ali Al-Baar, ini adalah ringkasannya,
” ﺇﻥ ﻣﺴﺘﻮﻯ ﺍﻟﺴﻜﺮ ” ﺍﻟﺠﻠﻮﻛﻮﺯ” ﻓﻲ
ﺍﻟﺪﻡ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﻤﻮﻟﻮﺩﻳﻦ ﺣﺪﻳﺜﺎً ﻳﻜﻮﻥ
ﻣﻨﺨﻔﻀﺎً ، ﻭﻛﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻭﺯﻥ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﺃﻗﻞ ،
ﻛﺎﻥ ﻣﺴﺘﻮﻯ ﺍﻟﺴﻜﺮ ﻣﻨﺨﻔﻀﺎً .
ﻭﺑﺎﻟﺘﺎﻟﻲ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻤﻮﺍﻟﻴﺪ ﺍﻟﺨﺪﺍﺝ [ ﻭﺯﻧﻬﻢ
ﺃﻗﻞ ﻣﻦ 2.5ﻛﺠﻢ] ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﺨﻔﻀﺎً ﺟﺪﺍً
ﺑﺤﻴﺚ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻷﺣﻴﺎﻥ ﺃﻗﻞ
ﻣﻦ 20 ﻣﻠﻠﻴﺠﺮﺍﻡ ﻟﻜﻞ 100 ﻣﻠﻠﻴﻠﺘﺮ ﻣﻦ
ﺍﻟﺪﻡ . ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻤﻮﺍﻟﻴﺪ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ 2.5 ﻛﺠﻢ
ﻓﺈﻥ ﻣﺴﺘﻮﻯ ﺍﻟﺴﻜﺮ ﻟﺪﻳﻬﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﺎﺩﺓ
ﻓﻮﻕ 30 ﻣﻠﻠﻴﺠﺮﺍﻡ .
ﻭﻳﻌﺘﺒﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺴﺘﻮﻯ ( 20 ﺃﻭ 30
ﻣﻠﻠﻴﺠﺮﺍﻡ ) ﻫﺒﻮﻃﺎً ﺷﺪﻳﺪﺍً ﻓﻲ ﻣﺴﺘﻮﻯ
ﺳﻜﺮ ﺍﻟﺪﻡ ، ﻭﻳﺆﺩﻱ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻋﺮﺍﺽ
ﺍﻵﺗﻴﺔ :
-1 ﺃﻥ ﻳﺮﻓﺾ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﺍﻟﺮﺿﺎﻋﺔ .
-2ﺍﺭﺗﺨﺎﺀ ﺍﻟﻌﻀﻼﺕ .
-3ﺗﻮﻗﻒ ﻣﺘﻜﺮﺭ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻴﺔ ﺍﻟﺘﻨﻔﺲ
ﻭﺣﺼﻮﻝ ﺍﺯﺭﻗﺎﻕ ﺍﻟﺠﺴﻢ .
-4 ﺍﺧﺘﻼﺟﺎﺕ ﻭﻧﻮﺑﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺸﻨﺞ
Sesungguhnya kandungan zat gula “glukosa”
dalam darah bayi yang baru lahir adalah sangat
kecil, dan jika bayi yang lahir beratnya lebih
kecil maka semakinkecil pula kandungan zat gula
dalam darahnya.
Oleh karena itu, bayi prematur (lahir sebelum
dewasa), beratnya kurang dari 2,5 kg, maka
kandungan zat gulanya sangat kecil sekali,
dimana pada sebagian kasus malah kurang dari
20 mg/100ml darah. Adapun anak yang lahir
dengan berat badan di atas 2,5 kg maka kadar
gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100
ml.
Kadar semacam ini berarti (20 atau 30 mg/100
ml darah) merupakan keadaan bahaya dalam
ukuran kadar gula dalam darah. Hal ini bisa
menyebabkan terjadinya berbagai penyakit:
1.Bayi menolak untuk menyusui;
2.Otot-otot melemas;
3.Berhenti secara terus-menerus aktivitas
pernafasan dan kulit bayi menjadi kebiruan;
4.Kontraksi atau kejang-kejang[9]
Tujuan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
adalah imunisasi?
Setelah mengetahui hikmah tahnik melalui
penjelasan ulama maka kita dapati tidak ada
yang menyatakan bahwa hikmahnya adalah
imunisasi alami, atau semisal meningkatkan
kemampuan tubuh untuk untuk melawan
penyakit. Apalagi menyatakan bahwa tujuan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
imunisasi, maka ini perlu dalil dan kita tidak
mendapati dalil tersebut . Maka harus berhati-
hati karena berkata-kata dusta atas nama Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam ancamannya keras.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻣﻦ ﻛﺬﺏ ﻋﻠﻲ ﻣﺘﻌﻤﺪﺍ ﻓﻠﻴﺘﺒﻮﺃ ﻣﻘﻌﺪﻩ
ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ
“Barang siapa berdusta atas namaku maka
bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di
neraka’” [10]
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
ﺇِﻥَّ ﻛَﺬِﺑًﺎ ﻋَﻠَﻲَّ ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻜَﺬِﺏٍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺣَﺪٍ
ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺬَﺏَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻣُﺘَﻌَﻤِّﺪًﺍ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺒَﻮَّﺃْ ﻣَﻘْﻌَﺪَﻩُ
ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah
sama dengan berdusta atas nama orang lain.
Karena barangsiapa yang berdusta atas namaku
dengan sengaja maka hendaklah dia
mempersiapkan tempat duduknya dari
neraka.” [11]
Tidak hanya tahnik saja tetapi dibarengi juga
dengan mendoakan
Ada ulama juga yang berpendapat bahwa tahnik
sebenarnya adalah mendoakan dan mengharap
berkah. Jadi tidak hanya tahnik saja tetapi harus
disertai dengan mendoakan bayi tersebut.
Syaikh Ihsan bin Muhammad Al-‘Utaibi berkata,
ﻗﻠﺖ: ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﺜﺎﺑﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺤﻨِّﻚ
“ ﻳﺪْﻋُﻮ ﻟﻠْﻤَﻮْﻟﻮﺩِ ﺑِﺎﻟﺒَﺮَﻛَﺔِ ” ، ﻛﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﻲ
“ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ” ( 10/707) ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ
ﺃﺑﻲ ﻣﻮﺳﻰ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ. ﻭﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ
ﻣﺴﻠﻢ ( 3/193) ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ” ﻳُﺒَﺮِّﻙُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ – ” ﺃﻱ: ﻳﺪﻋﻮ
ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﺒﺮﻛﺔ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
“Yang shahih, bahwasanya orang yang
melakukan tahnik mendoakan keberkahan bagi
bayi, sebagaimana dalam hadits di shahih
Bukhari (10/707) pada hadits Abu Musa Al-
Asy’ari dan di Shahih Muslim (3/193) dari hadits
Aisyah radhiallahu ‘anha, ‘beliau mendoakan
keberkahan bagi mereka’.” [12]
Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan
doa yang dibaca,
ﻗﻮﻟﻪ ﺛﻢ ﺣﻨﻜﻪ ﺃﻱ ﻭﺿﻊ ﻓﻲ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺘﻤﺮﺓ
ﻭﺩﻟﻚ ﺣﻨﻜﻪ ﺑﻬﺎ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﺑﺮﻙ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻱ ﻗﺎﻝ
ﺑﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﻭ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻓﻴﻪ
“Maksud mentahnik adalah meletakkan dalam
mulut bayi kurma, kemudian menggosoknya,
kemudian mendoakannya yaitu berdoa,
ﺑﺎ ﺭ ﻙ ﺍ ﻟﻠﻪ ﻓﻴﻪ (Baarakallahu fihi). Artinya :
“Berkah Allah kepadanya”.
atau
ﺍ ﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎ ﺭ ﻙ ﻓﻴﻪ (Allahumma baarik fihi). Artinya :
“Ya Allah berkahilah dia” [13]
Bakteri dalam mulut merangsang imunitas
alami?
Salah satu teori yang diusung oleh mereka yang
menyatakan bahwa tahnik adalah imunisasi alami
yaitu bakteri dari mulut orang yang mentahnik
akan berpindah ke perut bayi kemudian
merangsang imunitas alami, sebagaimana teori
imunisasi yaitu memaparkan antigen seperti
bakteri yang dilemahkan atau yang dimatikan.
Maka, ini perlu penelitian dan pembuktian
ilmiah. Dan jika benar maka bayi tersebut hanya
kebal terhadap bakteri di mulut bukan dengan
bakteri penyakit yang lain. Wallahu ‘alam.
Demikian pembahasan dari kami. jika ada saran,
masukan dan kritik yang bersifat membangun
harap disampaikan kepada kami. Mungkin masih
ada ilmu yang belum sampai kepada kami.
semoga bermanfaat.
Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu masjid
27 Dzulqo’dah 1433 H
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel www.Muslimafiyah.com
[1] Fathul Baari 9/558, Darul ma’rifah, Beirut,
1379 H, syamilah
[2] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (5467 Fathul
Bari) Muslim (2145 Nawawi), Ahmad (4/399), Al-
Baihaqi dalam Al-Kubra (9/305) dan Asy-Syu’ab
karya beliau (8621, 8622)
[3] Muttafaq ‘alaih
[4] HR. Bukhari (no. 5468) dan Muslim
(I/163-164). Lafadz hadits ini oleh Bukhari
[5] Al-Islam su’al wal jawab, sumber: http://
islamqa.info/ar/ref/102906
[6] Al-Inshaf lil Mawardi 4/104, sumber: http://
www.ferkous.com/site/rep/Bo46.php
[7] Syarhu Muslim lin Nawawi 14/124, Dar
Ihya’ut Turost, Beirut, cet. II, 1392 H< syamilah
[8] Fathul Baari 9/558, Darul ma’rifah, Beirut,
1379 H, syamilah
[9] Al-Islam su’al wal jawab, sumber: http://
islamqa.info/ar/ref/102906
[10] Hadits mutawatir diriwayatkan oleh Imam al-
Bukhari dalam Jami’ush Shahih ,Imam Muslim
dalam Muqadimmah Shahih Muslim,Imam
Tirmidzi dalam al-Jami’ , Imam Abu Dawud
dalam Sunan Abi Dawud, Imam Ibnu Majah
dalam Sunan Ibnu Majah, Imam Ad-Darimi dalam
Sunan ad-Darimi
[11] HR. Al-Bukhari no. 1209 dan Muslim no. 4
[12] Sumber: http://www.saaid.net/Doat/
ehsan/140.htm
[13] Fathul Baari 7/248,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar